Sebelum Mode Zonasi Di Banyuwangi Banyak Siswa Sekolah Kost

Agen Casino

Sebelum Mode Zonasi Di Banyuwangi Banyak Siswa Sekolah Kost – Aplikasi mode zonasi dalam pendaftaran siswa baru bawa efek untuk pemilik rumah kos di Banyuwangi. Semenjak aplikasi mode ini banyak rumah kos yang mangkrak tidak dengan penghuni. Situasi ini berlangsung terutamanya pada rumah kos yang pangsa pasarnya anak sekolah menengah atas.

Ini berlangsung di daerah Lingkungan Sukorojo, Kelurahan Banjarsari, Kecamatan Glagah. Beberapa pemilik rumah kos menyatakan upayanya sepi gara-gara aplikasi mode zonasi ini. Ini berlangsung semenjak dua tahun ini.

” Kebanyakan jika udah masuk jaman pendaftaran SMA atau SMK banyak yang pesan kamar kos, saat ini betul-betul tidak ada, ” kata Rosyid (39) , Pemilik rumah kos di Jalan Teratai Gang II, Lingkungan Sukorojo, Banjarsari, Jumat (21/6/2019) .

Rumah kos di daerah ini memang mengarah siswa SMA/SMK yang bersekolah di SMAN I Glagah, SMAN I Giri, SMKN I Banyuwangi, SMKN I. Glagah. Sebelum aplikasi mode zonasi banyak siswa sekolah datang dari kecamatan lain terutamanya daerah Banyuwangi selatan cari rumah kos.

Seperti Kecamatan Srono, Cluring, Bangorejo, Purwoharjo, Gambiran serta sekelilingnya. Dengan mode zonasi, siswa sekolah ini didominasi dari lingkungan sekelilingnya saja.

Rosyid memberikan tambahan, biarpun banyak kamar kos punyanya yang kosong, akan tetapi dianya sendiri harus tetap keluarkan ongkos operasional. Dikarenakan ia harus tetap keluarkan ongkos listrik, wifi, ongkos kebersihan serta perawatan. Namun 9 kamar yang diurus masih sepi.

” Pengin bagaimana , jika tidak dirawat ya jadi rusak, lebih besar kerugian saya, ” katanya.

Muhammad Ikbal, pemilik rumah kos lainnya malahan lebih kritis . Udah dua periode pendaftaran sekolah 8 kamar kos punyanya betul-betul belum sempat terisi. Walaupun sebenarnya pria ini udah menempatkan papan pengumuman di dalam rumah kos punyanya.

” Mode zonasi ini memengaruhi tingkat tempat tinggal rumah kos. Sebab siswa yang tempat tinggalnya jauh tambah berkurang, ” imbuhnya.

Ia mengharap, bila pemerintah tidak memanfaatkan mode yang lama sekurang-kurangnya dapat memberi quota privat buat siswa dari daerah luar wilayah. Hingga siswa dari daerah kecamatan lain masih dapat masuk ke sekolah-sekolah itu.

” Harus ada quota di luar wilayah berapakah, 30 % atau berapakah. Hingga tidak batasi yang di luar wilayah, ” ujarnya.